CatatanRevolusi - Pada hari ahad lalu saya pergi bersama dua orang pengurus pengajian kota dimana saya tinggal menuju sebuah masjid di kawasan pusat kota Frankfurt am Main. Tujuan kami mengunjungi masjid itu adalah untuk meminjam tempat untuk kegiatan semacam daurah dua hari semalam. Banyak hal menarik yang terjadi pada hari itu, yang insyaAllah akan bermanfaat sebagai wawasan kita.

Jujur, baru kali ini saya menjumpai sebuah masjid yang memiliki fasilitas selengkap itu. Walaupun memang saya belum mengarungi seluruh Jerman untuk mengetahui setiap masjid. Barangkali dari kisah yang akan saya ceritakan ini dapat menjadi gambaran atau cermin, bagaimana islam di Eropa dan bagaimana masyarakat Eropa menyikapi islam. Hari itu saya datang agak terlambat. Kami sepakat untuk sama-sama sholat jama’ah dzuhur di sana. Ketika saya tiba, sholat telah dimulai. Subhanallah, banyak sekali jama’ahnya. (1) Pelajaran pertama, masjid di Eropa sedikit, jika dibanding masjid di negara - negara islam lainnya. Tapi masjid di Eropa lebih makmur, karena tidak pernah sepi akan jama’ah, baik sholat shubuh, dhuhur, ashar, apalagi maghrib dan isya. Seusai sholat, saya duduk menunggu yang lain. Kemudian dua orang sahabat saya yang juga merupakan pengurus pengajian kota kami menghampiri saya. Ternyata, Ilham, ketua pengajian kami sudah sedikit ngobrol-ngobrol dengan salah satu pengurus masjid. Setelah itu kami diajak turun kebawah, menuju cafetaria atau kantin masjid. Ini juga merupakan salah satu ciri masjid di Eropa, Jerman khususnya, memiliki cafetaria sendiri, tempat para muslim bercengkrama seusai sholat atau sekedar mengisi perut yang kosong.

Subhamallah, kami dilayani dengan sangat baik. Padahal mereka belum pernah sama sekali bertemu dengan kami, sama sekali belum pernah mendengar tentang kami. Sekali kami bilang bahwa kami muslim dari kota Darmstadt, mereka segera menyambut, serasa saudara sendiri yang bertahun-tahun tidak berjumpa. (2) Pelajaran kedua, mulimin di Eropa memiliki ukhuwah islamiyah dan kepercayaan yang lebih tinggi. Juga kami dihidangkan sepiring besar spagheti. Rasanya juga tidak kalah enak dengan spagheti italy, tapi kalau dibandingkan dengan gado-gado indo, tentu gado-gado lebih nikmat. Pokoknya saat itu kami dijamu dengan sangat baik sekali. Secangkir teh maroko dengan daun segar di dalamnnya juga ikut dihidangkan. Sambil menyantap makanan, kami membicarakan perihal peminjaman ruangan. Al Akh Abdurrahman, ketua DKM masjid tersebut tidak memberi banyak syarat. Beliau cuma tanya, kami islam yang seperti apa dan satu lagi apa yang akan berikan dalam daurah itu. Kami jawab, tentu kami adalah Ahlussunah waljama’ah. Seketika itu mereka tersenyum dan tertawa. Mereka hanya sedikit khawatir, karena di Eropa perkembangan Ahmadiyah juga cukup pesat. Juga mereka meminta agar tidak ada kandungan sedikit pun tentang jihad, karena kata tersebut sangat sensitif sekali di Jerman. Bisa-bisa cuma gara-gara kata itu, masjid yang sudah didirikan sejak 1966 itu ditutup oleh pemerintah. Kami berani jamin tidak akan ada yang seperti itu. Tidak ketinggalan, hal yang paling penting dalam mengadakan sebuah kegiatan, yaitu konsumsi. Pihak masjid memberikan tawaran, yaitu memberikan fasilitas konsumsi bagi para peserta dengan memberi potongan separuh harga bagi peserta daurah. Subhanallah. Lalu, salah satu pengurus masjid lainnya, berkata, "tahukah kalian? waktu itu Bruder (english: Brother) Aqil tanya kepada kami, bahwa ada muslim Indonesia yang mohon peminjaman ruangan. Lalu saya meyakinkan kepada para pengurus, bahwa saya kenal dengan sifat orang indonesia melalui pengalaman saya berhaji dengan mereka, mereka itu ruhig (baca: sangat tenang, pendiam, tidak banyak omong) dan menjaga kebersihan. Sehingga kami memutuskan untuk meminjamkan ruangan kepada kalian." (3) Pelajaran ketiga, tiap-tiap muslim, bertindak atau bersikap bukan hanya untuk dirinya semata, tapi merupakan cerminan dari kelompoknya, yaitu islam. Jika kita baik, maka orang akan memandang bahwa islam itu baik. Jika sekarang islam dipandang jelek? Antum tahu sendiri sebabnya kan?

Lalu, kami diajak keliling masjid. Dan subhanallah, masjid yang kelihatan tidak terlalu besar itu, ternyata dari dalam adalah sangat luas. Masjid bertingkat dua itu memiliki rungan utama untuk ikhwan dan akhwat di permukaan tanah, dan dibagian bawah atau yang sering disebut sebagai keller (setiap bangunan di Jerman memiliki keller, ruang bawah tanah, biasanya untuk menyimpan barang, gudang, atau ruang pribadi atau tempat hobby) Dibagian bawah masjid terdapat banyak ruang, ada ruang untuk belajar bagi para remaja muslim. Mereka mengulang kembali pelajaran yang sulit di sekolah. Sebagai pengajarnnya adalah mahasiswa atau kelas yang lebih tinggi. Juga ada beberapa ruang kecil untuk seminar. Dan yang canggih, terdapat ruang untuk belajar komputer, di sana terdapat beberapa PC untuk mereka memperlajari komputer. Di ruang besar ikhwan dan akhwat terdapat Beamer (Proyektor) yang terhubung secara parallel melalui jaringan lokal. Di ruang sekretariat bahkan terdapat sebuah komputer server. Subhanallah. Baru kali ini saya lihat sebuah masjid yang punya server sendiri. Tempat wudhu dan toilet yang sangat bersih, sangat memahami arti kebersihan sebagian dari iman. Kemudian, kami diajak ke lantai satu. Di sana sedang perlangsung pengajian khusus para akhwat. Para muslimah yang berasal dari pelbagai negara islam sedang mendengar taujih dari salah seorang ustadzah berkewarganegaraan Austria. Lalu kami diajak juga ke menara masjid yang belum selesai, namun sudah memiliki bentuk yang indah.

Di sebelah kanan masjid adalah bangunan perumahan, yang alhamdulillah dimiliki oleh muslim. Jadi tidak ada keluhan lagi dari para tetangga dengan berdirinya masjid ini. Dibelakang masjid adalah lapangan bola yang sangat luas, sehingga tidak akan juga ada yang mengeluh. Di sebelah kiri masjid adalah jalan tol. Sebuah posisi yang strategis. Lalu Bruder Aqil menunjukan selebaran yang mengajak masyarkat Jerman untuk menolak masjid itu. Selebaran itu dibuat oleh salah satu partai rasis di Jerman yang hingga saat ini masih eksis. Al Akh Aqil berkata, "Lihatlah ini, selebaran ini, ini berarti mereka itu aktif, dan kita juga harus aktif, agar tidak tertinggal." (4) Pelajaran keempat, kita harus terus berbuat untuk islam. Jika kita cuma menyibukan kepada urusan pribadi yang hanya berorientasi pada dunia semata, maka ktia seperti orang yang tertidur, sedang musuh-musuh kita telah sibuk menyerang kita. Terakhir, kami diajak kesebuah toko hallal. toko ini terletak disebelah masjid, masih dalam kawasan masjid. Toko ini menjual kitab kitab hadist, Qur’an, buku bacaan islami, pakaian islami, dan makanan hallal. Toko hallal di dalam kawasan masjid juga merupakan ciri khas masjid di Eropa, sebab masjid adalah pusat islam. Di negeri di mana kita kesulitan mencari barang hallal, tentunya masjid lah yang menyediakan solusinya. Itulah salah satu potret masjid di Jerman.

Masjid menjadi pusat segala aktivitas sebagaimana masjid pada zaman Rasulullah SAW dulu. Demikian sedikit pengalaman yang semoga bermanfaat jika kita mengetahuinya sebagai wawasan islam. Namun, di samping semua itu, islam di Eropa telah mengalami perkembangan yang lumayan pesat. Contohnya masjid itu sendiri, sering kedatangan tamu yang ingin tahu tentang islam dan sudah banyak juga mualaf yang mengucap syaadat di sana. Jerman adalah negara yang memiliki toleransi tinggi, negara dengan islam agama kedua terbesar setelah katholik. Kami yang tinggal di sini bersyukur bahwa kami masih bisa menikmati ibadah. InsyaAllah, sebentar lagi Eropa akan ditaklukkan oleh Islam, mungkin tidak dengan perang, tapi dengan pemikiran, dengan tulisan, dengan pena… Dengan atau tanpa kita, Islam akan jaya. Diri kita sendirilah yang akan rugi jika kita tidak ikut serta di dalamnnya.

Wallahu’alam.

Kota Frankfurt Jerman

Foto: Antara Kultur Klasik Eropa (bangunan tua khas eropa) Dilatarbelakangi Pesatnya Teknologi (Gedung-gedung Pencakar Langit Frankfurt am Main)