Angin?

Seperti mimpi, ia datang, menghampiri, dalam lelap panjang sebuah pagi, memohon untuk segenggam maaf atas luka yang dulu belum terobati. Namun memang hanya sebuah angin, yang selalu ada dengan langit biru, langit yang membentang indah. Pedih dan rindu mengalir bersama darah, dan hanya angin yang dapat mengerti.

Hati…

Hati lalu berpadu, dan membawa pergi mimpi bersama keyakinan akan satu selamanya. Untuk sebuah pertolongan yang didambakan. Langit tak lagi sanggup berdiri, namun angin tetap bertiup membawanya. Hingga dunia mencaci, menatap hina tanpa malu. Angin tetap diam, dan terus diam bersama langit. Tanpa satu kata, kami akan tetap bersama.

 …

 

Biarkan aku tetap menjadi angin. Darmstadt, dalam sapa seorang sahabat…