Kisah tentang anak manusia,

terbuai angin dunia… perlahan menjauhi garis takdirnya, garis akan mimpi ayah bundanya. Dipuji, dan dipuja, merasa hidup adalah amat indah.

Sungguh,
ia sadar akan lakunya, tapi itu terlalu nikmat untuk diacuhkan.
Ia tahu nikmatnya sementara, tapi esok masih pun ada, biarlah esok saja.

 

Aku masih tersenyum untuknya. Biar saja ia nikmati hari - harinya, walau esok senja pasti kan menjelang.
Aku tahu aku bisa sepertinya, dan kadang aku ingin layaknya dia, tapi jalan ini terlalu pendek,
terlalu sedikit, sedang jalan di seberang sana terlalu lah abadi untuk kembali.

Terima kasih Rahiim, terima kasih.
Karena aku masih berada di garis takdirku…

 

terhenyak dalam dinginnya malam kota Darmstadt…