Cerita LayangSeptember 21, 2006 11:41 am

 

CatatanRevolusi - Siang itu matahari tidak terlalu terik, tapi cukup untuk membuat saya bersembunyi dibalik dinding menara Willy-Brand-Platz sambil menunggu tram yang datang. Lalu kedua mata saya tertarik untuk mengamati gerak seorang dua orang kakek tua yang menyebrang jalan tepat dihadapan saya. Mungkin mereka terburu-buru sehingga tidak menyebrang pada tempat yang sudah ditentukan. Yang satu terlihat masih segar bugar. Melangkah dengan gagahnya melintasi jalan yang sepi itu. Satu lagi terlihat cukup mengkhawatirkan. Jalannya sangat hati-hati, perlahan demi perlahan, bahkan tongkatnya pun tak lagi bisa membantu keseimbangan tubuhnya. Tubuhnya sering kali sedikit oleng. Saya belum berani untuk mengahampiri dan membantunya menyebrang, sebab seringkali saya malah mendapat caci ketika menolong seorang tua di Jerman. Orang bilang mereka merasa terhina jika ditolong, karena dianggap sudah tidak mampu lagi. Baca selengkapnya

Cerita LayangFebruary 14, 2006 10:13 pm

 

CatatanRevolusi - Bremen, salah satu kota multi-kultur di Jerman, kota yang salah satu penduduknya menjadi tawanan perang gelombang pertama di Guantanamo**, kota di mana terdapat masjid terbesar di utara Jerman.

*** Suatu hari di masjid Al-Fatih, Bremen. Beberapa pemuda muslim sedang bercengkrama membicarakan tema terbaru saat itu, yaitu Freiheit atau kebebasan dan Islam. Para pemuda muslim yang berasal dari pelbagai negara itu mengutarakan pendapatnya. "Saya lahir dan besar di Jerman dan di sini kami pelajari undang - undang kebebasan sejak SD. Kebebasan adalah, saya duduk di kursi ini dan saya bebas begerak kemana pun saya mau, ke depan, belakang, kiri, kanan. Tapi apakah juga suatu kebebasan, jika saya bergerak hingga menggeser saudara saya yang sedang duduk di kursinya, atau saya merebut kursi tempat ia duduk?" *** *Kebebasan ** Penjara untuk tawanan perang Amerika Al-Fatih Moschee

 

Darmstadt, 14 Februar Detik - detik menuju Prüfung… der_prabowo

Links: Al-Fatih Moschee (Masjid Al-Fatih Bremen)
Cerita LayangOctober 28, 2005 2:36 pm

CatatanRevolusi - Aku hanya ingin berbagi cerita tentang sebuah dusun. Sebuah dusun yang amat hijau. Ladangnya yang amat subur, hamparan hutan karet yang luas, sawah sawah yang hampir menguning, rawa rawa tempat kerbau kerbau asik bermain, empang empang ikan yang tidak kalah hijau dan sungai sungai kecil yang jernih mengalir segar.. Aspal tipis yang membujur dari ujung dusun hingga ujung yang lain adalah saksi sejarah berlakunya dusun itu. Birunya langit dusun itu sungguh amat indah. Jarang sekali muncul awan, langitnya sangat cerah. Menyusuri jalan aspal itu yang tidak setiap tahun diperbaiki oleh karena lubang lubangnya hingga sampai disebuah kawasan yang sangat ramah. Dahulu kala didusun ini terdapat seseorang yang amat kaya, tanahnya berhektar hektar, peternakannya selebar dusun. Hartawan yang juga seorang hamba yang taat ini selalu keliling dusun untuk melihat dusunnya. Ia sangat dicintai oleh penduduk dusun. Surau yang dibangunnya selalu padat oleh hamba. Ia memiliki dua orang istri. Kedua istrinya memiliki banyak anak. Hingga suatu saat, anak sulung dari istri pertamanya menjadi Lurah didusun itu. Sungguh amat benar, bahwa segala sesuatu dipermukaan bumi ini selalu berubah. Geraknya cepat sekali, entah apakah perubahan itu secepat awan yang berarak meneduhi bumi. Hanya satu hal yang tidak berubah dimuka bumi ini, yaitu perubahan itu sendiri. Dedaunan layu, pepohonan lapuk, sungai kering hingga satu persatu nurani penduduk dusun itu pun mulai pudar dimakan masa. Perampokan, pembunuhan, kekejian seringkali terjadi. Tak lagi tentram penduduknya. Waktu semakin laju, generasi baru muncul memandu. Anak sulung dari hartawan itu kini semakin tua. Ia tidak lagi seorang lurah, tidak lagi satu satunya orang yang dipandang. Walau kadang perkataannya dapat menyatukan kembali persaudaraan dusun itu. Banyak orang kota membeli tanah didusun itu. Hartawan yang dulu, bukan lagi orang yang berharta. Karena setiap manusia akan pergi meninggalkan dunia ini hanya dengan sehelai kain kafan dan amalnya. Keluarga besar yang kaya itu kini tinggal nama. Anak cucunya hanya berebut harta. Iri dan dengki menyelimuti hati hati mereka. Yang tersisa hanya tujuh anak dari anak sulung Hartawan itu. Keluarga satu satunya yang masih rukun dan menyimpan keindahan dsun tersebut. Mereka saling membantu, saudara yang miskin dibantu oleh yang kaya. Namun satu hal yang selalu tetap dan perlu diingat, yaitu perubahan. Tahun demi tahun tak terasa cepat berlalu, masa berganti. Keluarga itu tidak lagi kaya. Tanah tanahnya sudah dijual. Kehidupan makin sulit. Hijaunya dusun tak lagi seperti dulu, rindangnya dusun seolah jahat mengusir dan mencaci. Kini hanya tinggal cucu cucu dari anak sulung itu yang tersisa. Hanya mereka yang tahu rahasia hidup ini. Yaitu perubahan yang tetap berubah. Dusun yang dulu pernah indah itu kini seolah bukan lagi milik mereka. Karena bukan persaudaran yang mereka temukan, melainkan prasangka dan curiga dari penduduk dusun. Cucu cucu anak sulung itu pergi, berkelana mencari makna. Mereka ada dibelahan dunia ini, namun tidak lagi didusun tempat dahulu mereka lugu bermain. Hingga suatu saat, disebuah musim yang amat dingin sekali, terdengar kabar bahwa anak sulung dari hartawan itu pun menyusul ayahnya.

Kakek mereka yang amat menyayangi mereka telah tiada. Pupuslah sudah dusun itu. Setelah lama dusun itu sepi dengan ditemani kebencian, kini kembali riuh ramai. Penduduk dari ujung pelosok dusun pun datang kerumah itu. Sebongkah rumah tua, dimana anak sulung dari Hartawan itu tinggal. Mereka ingin melihat untuk yang terkahir kalinya orang yang dulu mereka pandang. Seorang anak dari seorang yang amat kaya raya. Yang ternyata kini masih dipandang. Hanya duka yang ada. Anak cucunya menangis. Bukan karena ditinggal ayah atau kakeknya, melainkan keindahan dusun itu. Namun satu yang masih belum hadir. Yaitu seorang cucu kesayangannya, yang amat disayanginya diantara yang lain. Karena ia selalu mendapat lebih dari yang lain. Karena si kakek tahu bahwa cucu yang satu ini yang tidak mencintai dunia. Semua bertanya dimanakah si cucu itu. Ternyata, si cucu itu yang kini adalah seorang pemuda yang masih terus berusaha berlari, berlari mengejar rahasia kehidupan, berlari mengejar perubahan itu. Hingga ia harus meninggalkan ayah bunda, keluarga dan kakek tersayang. Jauh, jauh sekali diseberang lautan sana. Jauh dibelahan bumi sana. Disebuah tempat dimana manusia mengira merekalah perubahan itu. Kecuali ia, si cucu itu. Si cucu hanya bisa termenung mendengar kabar kepergian kakeknya. Ia teringat si kakek yang pernah berkata ketika kepergiannya kenegeri peradaban yang jauh itu, bahwa si kakek akan menunda kematiannya hingga sang cucu kesayangan pulang. Tapi si kakek lupa, tiada yang berhak atas perubahan itu selain Tuhan yang menciptakan perubahan itu. Si cucu sadar, bahwa perkataan sang kakek tidak akan terjadi, bahwa mereka tidak akan lagi saling bertatapan. Namun sekali lagi, karena hanya ia yang masih mampu mengejar lajunya perubahan itu, sehingga hanya ia yang dengan ikhlas melepas kepergian kakeknya, walau tanpa ia melihat sesaat pun wajah damai kakeknya. Sang kakek tertidur pulas disamping ayahnya sang Hartawan, dibelakang Surau yang dahulu dibangun oleh Hartawan. Keluarganya berharap dan berdoa, agar kelak si cucu dapat menunggu perubahan itu, tidak lagi berlari untuk mengejar, tidak lagi berlari agar tidak terseret perubahan itu. Hingga tiba pada suatu masa, si cucu menulis sebuah tulisan tentang dusunnya yang dulu amatlah indah. Ia hanya ingin berpesan, “tetaplah engkau pada perubahan itu, jangan hentikan langkahmu mengejar perubahan itu, walau sesekali engkau pasti terjatuh bahkan mungkin lumpuh terseret seret.

 
Namun janganlah engkau diam terpaku melihat perubahan itu pergi meninggalkanmu sambil menangisi kekalahanmu. Kamu diciptakan bukan untuk menyerah pada dunia ini. Sekali saja engkau terdiam, maka semakin jauhlah perubahan itu meninggalkanmu, hingga semakin sulit bagimu untuk mengejarnya.” Oleh Aku, seorang cucu dari Anak sulung seorang Hartawan. Tahukah kamu siapa atau apakah perubahan itu ? Itu adalah Suatu Misteri Kehidupan yang harus kamu temukan sendiri. Fiksi kesekian, by der_prabowo